Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) terus melakukan berbagai
manuver politik. Mulai dari mencalonkan pendangdut Rhoma Irama, mantan
Ketua MK Mahfud MD dan terbaru mengusung Jusuf Kalla sebagai kandidat
presiden. Manuver galau hadapi Pemilu 2014 mendatang?
Pemilu
2014 menjadi ujian penting bagi PKB. Pemilu ini menjadi pembuktian
apakah partai besutan para kyai NU pada 1998 ini benar-benar telah
bertransformasi menjadi partai yang tak lagi identik dengan Gus Dur,
ikon partainya yang belakangan justru didepak dari posisi Ketua Dewan
Syura PKB. Atau justru Pemilu 2014 menjadi senjakala partai yang
mengidentikkan dirinya sebagai partai milik warga NU ini.
Tantangan
yang tidak ringan ini diperparah dengan berbagai hasil riset sejumlah
lembaga survei yang menempatkan partai ini di jajaran papan bawah.
Padahal, di Pemilu pertama dan kedua di era reformasi, PKB berada di
jajaran tiga besar partai politik di Indonesia.
Situasi inilah
yang belakangan menjadikan partai ini melakukan berbagai manuver. Mulai
menjagokan pendangdut Rhoma Irma, mengelus mantan Ketua Mahkamah
Konstitusi Mahfud MD dan yang terbaru mengusung nama mantan Wapres Jusuf
Kalla (JK).
Manuver PKB ini pun direspons Ketua DPP Partai Golkar
Priyo Budi Santoso. Priyo mencium ada upaya pendomplengan terhadap
figur Jusuf Kalla oleh PKB. Pasalnya, kata Priyo, PKB tidak hanya
mengusung figur JK saja. "Saya bertanya, itu tulus atau hanya dompleng
nama Pak JK? Kalau dompleng, saya sarankan jangan," kata Priyo di Gedung
DPR, Kompleks Parlemen Senayan Jakarta, Rabu (30/10/2013).
Hanya
saja Priyo menyebutkan semua kembali kepada PKB dan JK. Menurut dia, JK
merupakan tokoh senior Partai Golkar yang memiiki reputasi baik. "Semua
berpulang pada Pak JK apakah beliau mau atau tidak. Kalau akhirnya JK
memutuskan iya, kami tidak punya kewenangan untuk menahannya," imbuh
Priyo.
Sementara Sekretaris Jenderal DPP PKB Imam Nahrowi
mengatakan pihaknya sama sekali tidak ada niat untuk mendompleng JK demi
kepentingan PKB. Justru ia menyebutkan JK yang melamar menjadi Capres
dari PKB. "Yang ingin nyapres dari PKB itu JK. PKB tidak pernah melamar
beliau," ujar Imam kepada INILAH.COM di Jakarta, Rabu (30/10/2013).
Pernyataan
ini membantah tudingan Partai Golkar yang mengkahwatirkan PKB hanya
ingin mendompleng nama besar JK demi kepentingan elektoral partai itu.
Ketua DPP Partai Golkar Priyo Budi Santoso menyebutkan pihaknya
mengingatkan agar PKB tidak memanfaatkan nama besar JK.
Imam
menegaskan siapa saja yang ingin maju menjadi capres dari PKB maka
secara otomatis harus bersedia menjadi kader PKB. "Dan wajib
meninggalkan partai lamanya," tegas Imam.
Terpisah Direktur
Eksekutif Lembaga Kajian Survei Nusantara (Laksnu) Gugus Joko W
mengatakan manuver yang dilakukan PKB dengan mendorong calon non kader
maju dalam Pilpres 2014 merupakan langkah yang berisiko. "Jika tidak
tidak dibarengi strategi matang, akan menjadi blunder bagi PKB," ingat
Gugus.
Menurut dia, Rhoma Irama maupun Mahfud MD tidak bisa
ditampik memiliki pendukung dan loyalis di interal PKB. Munculnya nama
JK, kata Gugus, akan membuat migrasi pendukung Mahfud dan Rhoma beralih
ke partai lainnya.
Kendati demikian, menurut Gugus, langkah PKB
ini juga mendorong capres alternatif dari jajaran partai bawah-menengah.
Ia meyakini, dengan mendorong capres alternatif akan memberi sumbangan
untuk elektabilitas partai.
Strategi PKB Menghadapi Pemilu 2014
Written By Unknown on Kamis, 31 Oktober 2013 | 14.07
Label:
politik

Posting Komentar